Ia mengibaratkan kondisi tersebut seperti sebuah lingkungan yang telah dikuasai oleh kelompok tertentu. Ketika Ganoderma masuk, keberadaan mikroorganisme yang telah lebih dahulu mendominasi diharapkan dapat membuat tanaman dan lingkungan perakaran lebih tahan terhadap tekanan penyakit.
“Bagaimana kita memperbanyak mikroorganisme yang menjadi agen pengendali hayati di suatu wilayah sehingga dominan di dalam tanah. Ketika Ganoderma masuk, tanaman menjadi lebih resisten,” katanya.
Dua mikroorganisme yang selama ini banyak digunakan dalam pendekatan pengendalian hayati adalah Trichoderma dan mikoriza. Namun, Marlon mengingatkan bahwa aplikasi keduanya tidak cukup dilakukan secara parsial.
BCA JUGA: Hilirisasi Sawit Terhambat Regulasi, POPSI Dorong Percepatan Pembaruan Aturan Klasifikasi Produk
Penggunaan agen hayati dengan biaya relatif tinggi perlu didukung kondisi tanah dan ketersediaan bahan organik yang memadai. Tanpa lingkungan yang sesuai, efektivitas mikroorganisme yang diaplikasikan berpotensi tidak optimal.
“Percuma mengaplikasikan Trichoderma dan mikoriza yang harganya mahal kalau bahan organik dan kondisi tanah tidak mendukung,” tegasnya.
Manajemen Terpadu Jadi Kunci
Bagi Marlon, pengendalian Ganoderma pada akhirnya merupakan persoalan manajemen kebun secara terpadu. Strategi tersebut mencakup pemahaman terhadap sumber inokulum, pemantauan tanaman, pengelolaan kontak akar, pencatatan tanaman tumbang, pengelolaan bahan organik, hingga pemanfaatan agen pengendali hayati.
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Withdraw Pada Jumat (25/9), Perdagangan CPO di Bursa Malaysia Anjlok
Pendekatan tersebut juga menunjukkan bahwa pengelolaan Ganoderma perlu dimulai sejak sebelum tanaman ditanam, bukan setelah penyakit menunjukkan gejala.
Dengan memperhatikan kondisi tanah dan ekosistem mikroorganisme sejak awal, pengelola kebun memiliki lebih banyak pilihan untuk menjaga kesehatan tanaman dan mempertahankan produktivitas dalam jangka panjang. (T2)
