Pengendalian Hama dan Pemupukan di Pembibitan

oleh -35227 Dilihat
infosawit
Dok. Istimewa

InfoSAWIT, JAKARTA – Dalam proses pembibitan penanganan tanaman sawit menjadi sangat penting semisal mesti tetap menjaga bibitan sawit dari gulma. Penyiangan gulma dalam babybag pada pre nursery dilakukan dua minggu sekali secara manual, termasuk penambahan tanah dalam kantong bagi bibit-bibit yang terbuka berdasarkan bonggol akarnya dan bibit sawit yang nampak doyong.

Menurut buku Petunjuk Teknis Penanganan Kecambah dan Pembibitan Kelapa Sawit, terbitan PT Socfin Indonesia, untuk gulma yang ada dalam polybag di main nurserysebaiknya dilakukan secara manual dan sebaliknya untuk gulma yang tumbuh diluar polybag dapat menggunakan herbisida dengan alat semprot yang dilengkapi dengan pelindung pada bagian nozzel-nya guna menghindari terjadinya kabut herbisida, cara ini supaya herbisida mengenai bibit serta penyemprotan harus lebih rendah dari permukaan polybag.


Selain terus menjaga bibitan dari gulma, selanjutnya perlu juga dilakukan pengendalian hama dan penyakit pada saat pembibitan. Pemberantasan hama dan penyakit di pre nursery tidak dibenarkan menggunakan bahan kimia. Biasanya hama dan penyakit yang menyerang pada pre nursery dan main nursery tercatat serupa.

Kerusakan pada pembibitan tentu saja membuat rugi petani atau pelaku perkebunan, berikut beberapa hama dan penyakit yang bisa saja timbul dikala masa pembibitan:

  • Kecambah gagal tumbuh, kondisi ini akibat kualitas tanah tidak baik, desinfeksi tanah yang kurang memadai, penanaman yang kurang bagus, penyiraman yang terlalu banyak atau terlalu sedikit serta gangguan hama.
  • Daun terbakar (gosong), kondisi ini akibat penyiraman yang tidak memadai setelah pemupukan, tingkat aplikasi pupuk dan pemilihan produk yang salah saat memberikan pestisida, atau akibat pemindahan naungan secara tiba-tiba.
  • Daun menjadi kuning, seringkali terjadi akibat kurangnya kadar keteduhan, pengurangan nitrogen setelah bulan ketiga atau terlalu banyak air.
  • Bercak Coklat Pada Daun (Necrosis), kondisi ini akibat kekurangan sinar matahari.
  • Anthracnose, merupakan penyakit yang paling serius dan bisa saja muncul selama masa pembibitan. Sirkulasi udara yang baik dapat mengurangi risiko tanaman terkena penyakit ini. Fungisida juga dapat diberikan setiap dua bulan sekali (2 g mancozeb atau chlorothalonil per liter air)

Sementara untuk serangga pemakan daun yang dapat menimbulkan kerusakan dapat dicegah dengan menyemprotkan larutan 0,8-1 g carbaryl atau 0,024 g deltamethrin per liter air. Kecambah yang muda harus dilindungi dari semut, rayap dan jangkrik, caranya dengan mengoleskan bubuk deltamethrin di sekitar lahan tanam. Siput dan sejenisnya  dapat diawasi dengan menyebarkan metaldehyde secara acak di dalam pembibitan. Jika tikus menyerang, bersihkan batas pinggiran pre nursery dan pasang perangkap.

Pemupukan

Pemupukan dilakukan pada saat bibit berumur empat minggu setelah tanam, yakni ketika bibit telah memiliki satu helai daun berwarna hijau tua. Standar pupuk yang idanjurkan PT Socfin Indonesia pada saat pre nursery selain menggunakan urea juga menggunakan pupuk majemu 15-15-6-4.

Beberapa yang mesti diperhatikan dikala pemupukan di pre nursery, jangan mengaplikasikan pupuk dalam bentuk granular (butiran) sebab bisa menyebabkan kerugian berupa efek kontak (terbakar) pada tanaman. Sepatutnya mengaplikasikan pemupukan dalam bentuk liquid (cair), dengan cara menyiram ke tanah dalam kantong.

Dikala pemupukan di main nursery, selain menggunakan pupuk majemuk 15-15-6-4 atau 12-12-17-2 juga kieserite untuk bibit-bibit yang menunjukkan gejala defisiensi Mg setalh umur 8 bulan.

Pada saat melakukan pemupukan di main nusery ada beberapa hal yang mesti diperhatikan, semisala pertama, jangan mengaplikasikan pupuk dalam kondisi daun kering atau pada saat terik matahari. Lantaran, bakal mengakibatkan efek kontak (terbakar) pada daun, menyebabkan stress dan menghambat perkembangan bibit.

Lantas kedua, sepatutnya pupuk diaplikasikan melingkar secara merata di bibir polybag. Proses pemupukan itu mesti dilakukan secara hati-hati guna mencegah pupuk tidak mengenai daun lantaran dapat mengakibatkan efek kontak (bakar).

Ketiga, penggemburan ringan dibutuhkan guna membantu iar dan hara masuk ke dalam tanah, sebab lapisan lapisan padat dapat terbentuk akibat penyiraman yang berlebihan. Keempat, pupuk slow release tidak disarankan digunakan di main nursery.

Kelima, bibit-bibit yang menunjukkan gejala kekurangan Mg dapat diberi tambahan Kieserit dua bulan sekali dengan dosis, umur 8-9 bulan sebanyak 20 gr/bibit, 10-11 bulan sekitar 25 gr/bibit dan 12-14 bulan mencapai 30 gr/bibit. Pemberian ekstra harus dilakukan secara selektif bagi bibit-bibit yang memerlukan saja. (T2)

Sumber: Majalah InfoSAWIT edisi Desember 2012

Dapatkan update berita seputar harga TBS, CPO dan industri kelapa sawit setiap hari dengan bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link InfoSAWIT-News Update, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Bisa juga IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


Atau ikuti saluran Whatsapp "InfoSAWIT News", caranya klik link InfoSAWIT News dan Group Whatsapp di InfoSAWIT News Update

Untuk informasi langganan dan Iklan silahkan WhatsApp ke Marketing InfoSAWIT_01 dan Marketing InfoSAWIT_02 atau email ke sawit.magazine@gmail.com