Baru pada 21 April 1986, PT Bakrie&Brothers mengambil alih kepemilikan perusahaan itu dengan komposisi saham pertama kali mencapai 75%. Menurut Aburizal Bakrie, berdasarkan informasi dari Soedjai Kartasasmita yang kala itu menjabat sebagai Sekretaris Dewan Gula Indonesia (DGI), bahwa ada kebun yang hendak dijual di daerah Sumatera. Dirinya langsung mendatangi lokasi, tentunya setelah mendapat restu sang ayah, Achmad Bakrie.
Rencana pembelian kebun itu tidak terlalu mulus, lantaran ada usaha beberapa oknum yang menghalang-halangi proses pembelian kebun. “Padahal investor lain hanya menawar dengan harga lebih rendah,” cerita Aburizal Bakrie yang kerap dipanggil Ical, saat acara satu dekade kebun sawit BSP di Kisaran, Sumatera Utara.
Untungnya niat membeli kebun itu akhirnya bisa terkabulkan, dikatakan Aburizal, suksesnya pembelian kebun itu pula berkat jasa Ginanjar Kartasasmita yang kala itu menjabat sebagai Menteri Muda Urusan Peningkatan Penggunaan Produksi Dalam Negeri, yang mendorong pihak PT Bakrie&Brothers untuk terus melakukan proses pembelian perusahaan eks Uniroyal Inc.
BACA JUGA: Tere Liye: Saat Harga TBS Tersungkur, Perusahaan Sawit Justru Makmur
Setelah resmi diakuisisi Bakrie&Brothers, perusahaan itu dipimpin oleh Burhanuddin Pane sebagai direktur utama, lantas pada masa Mochammad Koesmihadi sebagai direktur utama, tepatnya tahun 1990, perusahaan pun melantai ke bursa saham. Sepanjang waktu 25 tahun, paling tidak perusahaan itu sudah enam kali berganti pimpinan (direksi).
Selanjutnya, pada 1992 perusahaan kembali mengubah nama menjadi PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk, dan di tahun yang sama perusahaan pun mulai memasuki bisnis perkebunan kelapa sawit. (T2)
