Tidak hanya itu, Abdulah juga menghimbau adanya kemitaan yang sejajar antara perusahaan dan pekebun atau petani guna mengembangkan proses refleksi diri, meningkatkan proses penguatan kemampuan, dan proses pengembangan modal sosial. Harapannya mitra tersebut menjadi komunitas yang komunikatif, untuk usaha perkebunan yang tumbuh secara alami, dan dalam proses perjalanannya akan berkembang menjadi lembaga yang solid dan harmonis karena dirajut oleh modal sosial serta mampu mensinergikan kekuatan seluruh pelaku kemitraan.Seperti diketahui bahwa di Jambi ini perusahaan perkebunan kelapa sawit ada 186 perusahaan.
Sementara diungkapkan Direktur Keuangan, Umum, Kepatuhan dan Manajemen Risiko Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), Zaid Burhan Ibrahim, praktik budidaya di tingkat petani telah mengalami pergeseran signifikan dari metode konvensional menuju pendekatan yang lebih modern. Petani kelapa sawit cenderung menerapkan ilmu pengetahuan yang lebih maju untuk meningkatkan efisiensi dan hasil produksi mereka.
Namun demikian, pentingnya integrasi sektor dari hulu hingga hilir menjadi fokus utama dalam budidaya kelapa sawit modern. Melalui riset, sarana prasarana (sarpras), dan kegiatan lainnya, bisa mendukung petani dalam memaksimalkan pemanfaatan hasil kelapa sawit. Produk-produk seperti baju anti-peluru, batik, dan berbagai inovasi lainnya telah dihasilkan dari kelapa sawit, menciptakan nilai tambah yang signifikan.
BACA JUGA: Seruyan Kian Mantap Menuju Sertifikasi Yurisdiksi Berkelanjutan
Diakui atau tidak, riset menjadi landasan penting dalam upaya peningkatan produktivitas kelapa sawit. Melalui penelitian yang terus menerus, petani akan mampu meningkatkan teknik budidaya dan memanfaatkan inovasi terkini guna mencapai hasil yang lebih optimal. “Riset dibuat untuk peningkatan produktivitas sawit petani,” katanya.
Lantas, isu stabilitas harga menjadi kunci dalam keberlanjutan industri kelapa sawit. Program biodiesel, yang menjadi salah satu inisiatif penting, memberikan insentif bagi petani. Pembelian kelapa sawit oleh Pertamina untuk dijual dengan brand Biosolar seharga Rp 6000 per liter, akan mampu menciptakan stabilitas yang diperlukan bagi petani. Program ini juga berperan dalam mendorong penggunaan energi ramah lingkungan.
Program riset untuk mengubah kelapa sawit menjadi biohidrokarbon merupakan langkah terobosan dalam memanfaatkan potensi kelapa sawit secara lebih luas. Inisiatif ini diberikan mandat kepada Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan rakyat.
BACA JUGA: Antisipasi Musim Kering Supaya Produksi Kelapa Sawit Tetap Selangit
“Program Peningkatan Kesejahteraan Petani (PSR) menjadi instrumen utama dalam mewujudkan kesejahteraan bagi para petani kelapa sawit. Dengan target 180 ribu petani per tahun, pemberian hibah sebesar Rp 30 juta per hektar, maksimal 4 hektar, memberikan dorongan finansial yang signifikan,” katanya. (T2)
