Meskipun terjadi penurunan emisi pada tahun 2018 sebanyak 48,46 persen, dampak negatif emisi gas tidak hanya merusak lapisan ozon tetapi juga mencemari udara, berpotensi membahayakan keberlangsungan makhluk hidup. Oleh karena itu, perlu adanya tindakan lebih lanjut dalam menangani masalah ini.
Untuk memitigasi dampak negatif, praktik pertanian yang berkelanjutan perlu diadopsi, termasuk mengurangi perubahan penggunaan lahan yang merusak. Selain itu, pemikiran tentang siklus hidup lengkap dari produk kelapa sawit menjadi krusial. Organisasi internasional dan produsen juga harus terus mendorong produksi kelapa sawit yang berkelanjutan, mempertimbangkan aspek lingkungan dan sosial dengan lebih baik.
Dalam konteks ini, peran Indonesia sebagai produsen terbesar kelapa sawit menjadi kunci dalam mencari solusi yang seimbang antara manfaat ekonomi dan keberlanjutan lingkungan. Diperlukan komitmen bersama dari pemerintah, industri, dan masyarakat untuk mencapai tujuan keberlanjutan yang optimal dalam industri kelapa sawit. (*)
Penulis: Marwana Febrianti ; Andreas Ary Chrisna Jati ; Fio Febrian ; Falah Ahmadanu ; Dzacky Nanda Ferdi ; M. Qurtubi Ash Shiddiqi
Sumber: IPB Digitani
