InfoSAWIT JOGJAKARTA – Hingga saat media asing sering kali menggambarkan kelapa sawit sebagai biang masalah seperti deforestasi, sebab itu diungkapkan Regional Director for South East Asia Island Countries CIRAD, Jean-Marc RODA, semua itu menjadi tantangan pemahaman di masyarakat Uni Eropa.
“Terutama di kalangan generasi muda, yang sering dibombardir dengan penggambaran berlebihan tentang isu-isu lingkungan, ada kesenjangan signifikan antara persepsi dan realitas,” katanya saat menjadi pembicara pada acara ASEAN Palm Oil Student Association (APOSA) 2024 yang dipantau InfoSAWIT, Rabu (6/3/2024).
Namu pada faktanya tatkala mereka (para pelajar) yang magang universitas-universitas Eropa bergabung dengan inisiatif pertanian di wilayah seperti Asia, mereka mulai menyadari kompleksitas dan nuansa bereda saat terlibat dalam perkebunan sawit berkelanjutan, dan membuka realitas dari pengaruh narasi media yang meresahkan.
BACA JUGA: Dua Agenda Besar Deputi Menko II
Lebih lanjut tutur Jean-Marc, program pertukaran pelajar antara universitas-universitas Asia dan Eropa telah terbukti penting dalam menjembatani kesenjangan informasi ini. Melalui pengalaman langsung di lapangan, para siswa dihadapkan pada realitas praktik perkebunan dan upaya keberlanjutan. Informasi langsung ini membongkar prasangka dan memupuk pemahaman yang lebih holistik tentang tantangan yang dihadapi.
Namun, kesenjangan tetap ada tidak hanya antara generasi muda di berbeda negara, tetapi juga di dalam masyarakat Uni Eropa sendiri. Misalnya pemuda perkotaan, terputus dari realitas kondisi pertanian, sering kali memiliki keyakinan yang dibentuk oleh media.
Kata Jean-Marc, Fenomena ini tidak eksklusif untuk pengaruh Barat tetapi juga tercermin dalam komunitas Asia. Kontras antara penduduk kota dan mereka yang terlibat dalam usaha pertanian menegaskan pentingnya pendidikan dan informasi dalam membentuk persepsi.
BACA JUGA: APOSA Forum 2024, Kenalkan Praktik Sawit Berkelanjutan ke Kalangan Generasi Muda
Namun demikian, di tengah tantangan ini terdapat harapan. Pengakuan disparitas ini di dalam Asia menawarkan kesempatan untuk introspeksi dan dialog. Dengan mengakui pengaruh narasi media dan secara aktif mencari untuk memperluas perspektif, jalan menuju pemahaman dan kolaborasi yang lebih besar muncul.
