Pemerintah juga perlu menguatkan berbagai regulasi yang ada di industri sawit, semisal kewajiban Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO), melalui Peraturan Menteri dan aplikasinya di lapangan. Implementasi yang beragam, tentunya membutuhkan berbagai aturan, yang mampu mendorong dunia usaha memenuhi kewajiban ISPO.
Berbagai regulasi yang diberlakukan bagi industri kelapa sawit dari hulu hingga hilir, juga perlu dikaji secara mendalam, supaya industri mampu mengikuti perkembangan jaman dan kuat bersaing terhadap industri lainnya.
Pentingnya keberadaan Poltek CWE, menurut Nugroho mampu memenuhi kebutuhan SDM yang dibutuhkan. Pendidikan yang diberikan kepada siswa didik mahasiswa, selain dibekali keterampilan (hard skill ) juga kepribadian dan kepemimpinan (soft skill) , juga kurikulum dan staf dosennya diupdate. Hasilnya, kemampuan SDM yang berhasil lulus dari Poltek CWE akan mampu menyesuaikan dengan keadaan bisnis kelapa sawit.
BACA JUGA: Pemerintah Malaysia Gerebek Toko Serba Ada yang Jual Es Krim Berlabel “No Palm Oil”
Kelebihan lulusan Poltek CWE, lebih cepat beradaptasi dan terbiasa dengan perkembangan industri terkini. Sebab itu, hingga saat ini, Poltek CWE sudah meluluskan 550 mahasiswa yang tersebar di berbagai perkebunan kelapa sawit di Indonesia hingga Malaysia. Pihak perusahaan Malaysia, Sarawak Berhard, pernah mengungkapkan kesalutannya, terhadap cara pendidikan di Poltek CWE.
“Artinya kita mampu memenuhi kualitas mutu SDM sawit, bahkan hingga sekarang, Poltek CWE masih bekerjasama dengan perusahaan kelapa sawit nasional dan Malaysia,” tutur Nugroho yang memiliki hobi gowes sepeda ini. (*)
