InfoSAWIT, KUALA LUMPUR – Harga minyak sawit mentah (CPO) yang tetap lebih tinggi dibandingkan minyak nabati lain, seperti kedelai, membuat pembeli utama Malaysia—India, Uni Eropa, dan China—beralih ke minyak nabati lain yang lebih murah.
Laporan Gleanuk Economics mencatat bahwa ekspor minyak sawit Malaysia mencapai level terendah sejak Februari 2024. Penyebab utamanya adalah harga CPO yang rata-rata mencapai RM4.700 per metrik ton (MT) sepanjang tahun ini, sehingga menekan permintaan dari pasar utama.
Stok CPO Malaysia per Februari 2025 juga turun ke level 1,51 juta ton, terendah sejak Maret 2022, akibat produksi yang lemah serta peningkatan konsumsi domestik. Gleanuk mencatat bahwa lonjakan ekspor minyak dari limbah kelapa sawit (POME) turut berkontribusi terhadap penurunan stok, setelah Indonesia melarang ekspor minyak “limbah”.
BACA JUGA: Kementerian Perdagangan dan Satgas Pangan Polri Gelar Sidak Distribusi MINYAKITA
Dilansir InfoSAWIT dari The Edge Market, Kamis (13/3/2025), TA Securities dalam catatan terpisah menyebutkan bahwa aktivitas restocking menjelang Ramadan lebih lambat dari biasanya. Hal ini mengindikasikan bahwa pembeli India mulai beralih ke minyak alternatif yang lebih murah dibandingkan minyak sawit.
Selain itu, pasar global kini tengah mencermati negosiasi antara China dan Amerika Serikat. Jika terjadi ketegangan perdagangan, harga minyak kedelai bisa terdampak, yang berpotensi mengubah dinamika permintaan minyak nabati dunia.
Harga CPO Turun di Kuartal II 2025
Hong Leong Investment Bank (HLIB) memproyeksikan harga CPO mulai turun pada kuartal kedua 2025. Faktor utamanya adalah berlanjutnya premi harga minyak sawit dibandingkan minyak nabati lain serta meningkatnya produksi minyak nabati global.
BACA JUGA: Impor Minyak Nabati India Selain Sawit Terendah dalam Empat Tahun, Stok Menipis
“Penurunan stok minyak sawit kemungkinan akan berlanjut hingga Maret 2025, terutama karena cuaca yang kurang mendukung akan menekan produksi lebih lanjut. Di sisi lain, permintaan yang terbatas akibat harga tinggi akan membatasi aktivitas restocking menjelang Ramadan,” ujar HLIB.
Sementara itu, BIMB Securities memperkirakan harga CPO tetap tinggi pada kuartal pertama 2025 di kisaran RM4.500 hingga RM5.000 per MT. Namun, setelahnya, harga diperkirakan turun ke kisaran RM3.500 hingga RM4.500 per MT untuk sisa tahun ini.
Secara keseluruhan, para analis memperkirakan harga rata-rata CPO pada 2025 akan berada di kisaran RM3.800 hingga RM4.200 per MT. (T2)
