InfoSAWIT, KARACHI – Di tengah tekanan global terhadap pasokan pangan dan meningkatnya kebutuhan akan sumber minyak nabati yang efisien dan bergizi, Pakistan semakin memperkuat posisinya sebagai pasar strategis bagi minyak sawit. Lebih dari 96 persen kebutuhan impor minyak nabati di negara ini kini dipenuhi oleh minyak sawit, dengan konsumsi tahunan yang melebihi 3 juta ton.
Dalam sesi diskusi yang digelar Kamis lalu, sejumlah pakar industri menyerukan perlunya peningkatan kesadaran publik terhadap manfaat minyak sawit—tak hanya dari sisi ekonomi dan ketahanan pangan, tetapi juga dari aspek keberlanjutan dan nilai gizi.
“Minyak sawit bukan sekadar komoditas industri. Ini adalah tulang punggung ketahanan pangan Pakistan,” ujar Nadar Ali Ghanghro, Marketing Officer di Konsulat Jenderal Malaysia untuk Karachi. Ia menekankan bahwa stabilitas alami, umur simpan yang panjang, dan keterjangkauan harga menjadikan minyak sawit sangat penting, terutama bagi masyarakat pedesaan.
BACA JUGA: Reforma Agraria, Janji Keadilan yang Masih Menanti Pembuktian
Lebih jauh, Ghanghro menyebut bahwa minyak sawit adalah sumber lemak nabati tanpa kolesterol dan bebas lemak trans, yang juga kaya antioksidan seperti tokotrienol dan beta-karoten. “Ini adalah bagian penting dari pola makan sehat yang mendukung kesehatan jantung dan kesejahteraan masyarakat,” tambahnya dilansir InfoSAWIT dari Business Recorder, Sabtu (21/6/2025).
perhatian utama juga datang dari aspek produktivitas dan efisiensi lahan. Dr. Ramle Moslim, Deputi Direktur Jenderal Bidang R&D dari Malaysian Palm Oil Board (MPOB), memaparkan bahwa kelapa sawit menghasilkan 4 hingga 10 kali lebih banyak minyak per hektare dibandingkan tanaman penghasil minyak lainnya seperti kedelai, bunga matahari, atau rapeseed.
“Efisiensi ini bukan hanya menguntungkan secara ekonomi, tetapi juga mengurangi tekanan terhadap ekosistem alam,” jelas Dr. Ramle. Ia mencatat bahwa Malaysia saat ini memiliki lebih dari 5,6 juta hektare lahan sawit, yang mendukung mata pencaharian lebih dari 500.000 petani kecil. “Minyak sawit memberikan kontribusi nyata terhadap stabilitas pangan global.”
BACA JUGA: UNJA Luncurkan DIGISAWIT, Terobosan Digital untuk Petani Sawit Berkelanjutan di Jambi
Tren Keberlanjutan di Pakistan
Dalam beberapa tahun terakhir, industri minyak sawit di Pakistan juga menunjukkan pergeseran penting ke arah praktik yang lebih ramah lingkungan. CEO NIMIR, Zafar Mahmood, menjelaskan bahwa perusahaan-perusahaan multinasional di Pakistan kini mensyaratkan pasokan minyak sawit bersertifikasi RSPO, baik skema Mass Balance, Segregated, maupun yang sesuai dengan prinsip NDPE (No Deforestation, No Peat, No Exploitation).
“Perubahan ini telah mendorong rantai pasok menuju transparansi dan tanggung jawab lingkungan yang lebih besar,” kata Mahmood. Ia juga menekankan bahwa keterlibatan Pakistan dalam transformasi global ini memberikan dampak positif jangka panjang bagi industri pangan nasional.
