Mukhlis, SP, MA, Kabid Penyuluhan dan Pengembangan SDM Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh, mengingatkan pentingnya mencermati seluruh proses, mulai dari penyediaan bibit hingga pengendalian hama dan penyakit. “Pelatihan ini penting untuk dipahami betul. Ini modal dasar agar petani tidak tertinggal secara teknologi,” katanya dalam pembukaan pelatihan, Selasa (8/7) lalu.
Salah satu materi yang paling ditekankan adalah konsep “Tujuh Tas” dalam budidaya sawit, yakni: legalitas, produktivitas, kualitas, kontinuitas, sustainabilitas, traceabilitas, dan profitabilitas.
“Kalau hanya mengejar hasil panen, itu belum cukup. Usaha tani harus memenuhi semua aspek ini agar benar-benar berkelanjutan,” jelas Hariyadi. Ia berharap setelah pelatihan ini, petani mampu menjadi pelaku usaha mandiri yang sadar mutu dan bertanggung jawab terhadap lingkungan.
BACA JUGA: Kaltim Siapkan Forum Konsultasi Daerah untuk Dorong Transformasi Sawit Berkelanjutan
Peserta sendiri terlihat antusias sepanjang pelatihan. Banyak yang mengaku baru pertama kali mengetahui secara langsung bagaimana industri sawit modern dikelola dari hulu ke hilir.
Program ini sekaligus menjadi langkah nyata BPDP dan IPB Training dalam memperkuat kapasitas SDM sawit di Indonesia. Dengan pengetahuan yang lebih terarah dan aplikatif, petani diharapkan mampu meningkatkan produktivitas secara berkelanjutan dan membawa sektor sawit Aceh lebih kompetitif di masa depan. (T2)
