InfoSAWIT, LAMANDAU — Upaya memperkuat kapasitas dan kemandirian petani sawit swadaya terus digalakkan. Pada 6 November 2025, Solidaridad Indonesia menggelar Farmer Field Day (FFD) bagi alumni Sekolah Lapangan (SL) di Lamandau, Kalimantan Tengah. Kegiatan ini menjadi wadah berbagi pengetahuan, memperluas jejaring, serta memperkuat semangat petani dalam menerapkan praktik perkebunan kelapa sawit yang produktif, efisien, dan berkelanjutan.
Mengusung tema “Meningkatkan Produktivitas dan Praktik Berkelanjutan Melalui Jejaring Alumni yang Kuat”, FFD kali ini juga menjadi bagian penting dalam implementasi Rencana Aksi Daerah Kelapa Sawit Berkelanjutan (RAD KSB) 2024–2026 Kabupaten Lamandau. Fokusnya adalah memperkuat posisi petani sawit swadaya melalui peningkatan kapasitas, pendampingan praktik pertanian baik (Good Agricultural Practices atau GAP), fasilitasi penerbitan Surat Tanda Daftar Budidaya (STDB), serta percepatan sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO).
Menurut Yeni Fitriyanti, Country Manager Solidaridad Indonesia, FFD bukan sekadar ajang pertemuan, melainkan ruang konektivitas antarpetani dan pemangku kepentingan. “FFD memberi kesempatan bagi alumni Sekolah Lapangan untuk berbagi pengalaman kepada sesama petani, masyarakat, akademisi, dan industri tentang praktik terbaik yang sudah mereka terapkan. Di sini juga dibuka akses informasi, keuangan, pasar, serta dukungan dari pemerintah dan sektor swasta,” jelasnya.
BACA JUGA: RSPO Dorong Pasar Pahami Dampak Nyata Dukungan terhadap Petani Sawit Kecil
Yeni menegaskan, sinergi lintas sektor menjadi kunci agar petani swadaya semakin kuat dan berdaya. “Kami berharap kegiatan ini memperkokoh posisi petani sawit swadaya di Lamandau, baik dalam hal produktivitas maupun pengelolaan kebun berkelanjutan,” ujarnya, dalam keterangan resmi ditulis InfoSAWIT, Selasa (11/11/2025).
FFD melibatkan beragam pihak—mulai dari pemerintah daerah, dinas teknis, perusahaan, akademisi, lembaga swadaya masyarakat (CSO), hingga pelaku industri sawit. Acara ini menjadi ruang kolaborasi dan berbagi pengalaman, khususnya dalam peningkatan hasil panen, tata kelola kebun, serta penerapan standar keberlanjutan seperti ISPO dan Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO).
Selain sesi diskusi, kegiatan FFD juga diramaikan dengan kunjungan lapangan ke kebun petani serta pameran dari berbagai pihak. Politeknik Lamandau menampilkan produk pupuk organik dan kerajinan dari limbah sawit, sementara sejumlah perusahaan memperkenalkan inovasi teknologi dan solusi pembiayaan untuk mendukung petani. Beberapa booth juga diisi lembaga keuangan dan produsen pupuk yang memberikan akses layanan langsung kepada peserta.
BACA JUGA: Produktivitas Tinggi Dorong Pertumbuhan Bisnis CSRA, Laba Bersih Naik 70 Persen
Rangkaian FFD turut menghadirkan paparan dari Dinas Pertanian dan Perikanan Lamandau terkait STDB, sertifikasi ISPO, pengembangan sarana-prasarana pertanian, serta beasiswa sawit yang difasilitasi Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP). Ada pula sesi khusus mengenai pengembangan produk turunan dari lidi sawit dan nipah yang disampaikan oleh para pakar.
Program Sekolah Lapangan Solidaridad sendiri menunjukkan dampak nyata sejak diluncurkan pada 2024. Hingga kini, program tersebut telah menjangkau 13 desa di empat kecamatan dengan total luasan kebun mencapai 40.043 hektare. Sebanyak 760 petani telah mengikuti pelatihan, termasuk 187 perempuan, menegaskan komitmen Solidaridad terhadap prinsip inklusivitas gender. Pada FFD kali ini, sebanyak 130 petani resmi diwisuda sebagai alumni SL.
Melalui kegiatan ini, diharapkan lahir Rencana Tindak Lanjut (RTL) yang disusun bersama oleh petani sawit swadaya di wilayah program. RTL tersebut akan menjadi pedoman dalam memperkuat kelembagaan kelompok petani berbasis komunitas yang mandiri dan berkelanjutan.
BACA JUGA: HIP Biodiesel November 2025 Ditetapkan Rp 14.036 per Liter
Ke depan, Solidaridad berharap jejaring alumni SL di Lamandau dapat tumbuh menjadi wadah konsultasi dan kolaborasi antarpetani, yang tidak hanya fokus pada produktivitas, tetapi juga pada keberlanjutan sosial dan lingkungan. Lebih jauh lagi, FFD ini menjadi bukti nyata komitmen kolektif petani, pemerintah daerah, dan mitra pembangunan dalam mewujudkan RAD KSB Lamandau sebagai contoh praktik sawit berkelanjutan di tingkat daerah. (T2)
