InfoSAWIT, JAKARTA – Setelah 43 tahun berkiprah, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) telah mencapai kedewasaan dalam menghadapi dinamika industri kelapa sawit. Meski demikian, tantangan tidak pernah berhenti, dan masih banyak yang harus diatasi demi kemajuan industri ini.
Anggota GAPKI saat ini mencapai 733 perusahaan, sebuah angka yang mengesankan tetapi masih jauh dari total 3.000 an perusahaan kelapa sawit di Indonesia. Dengan luas lahan yang mencapai 3,7 juta hektar, GAPKI baru mencapai sekitar 30 persen dari potensi industri sawit nasional. Meskipun demikian, perkembangan positif tampak dengan adanya rencana penambahan cabang di Lampung, menambah jumlah cabang GAPKI yang saat ini berjumlah 15.
“Kami akan berupaya mewujudkan industri sawit yang berkelanjutan dan mensejahterakan,” kata Ketua Umum GAPKI, Eddy Martono, dalam acara perayaan ulang tahun ke-43 GAPKI yang dihadiri oleh InfoSAWIT, pada Selasa (27/2/2024).
BACA JUGA:
Meskipun menghadapi berbagai kendala, industri kelapa sawit terus memberikan kontribusi signifikan terhadap devisa negara. Pada tahun 2022, devisa sawit mencapai US$ 39,07 miliar atau setara dengan Rp 600 triliun, dengan total ekspor mencapai 33,15 juta ton. Sementara pada 2023, ekspor minyak sawit Indonesia diperkirakan hanya mencapai 32,21 juta ton.
Industri sawit terus mengalami fluktuasi, baik karena faktor internal maupun eksternal seperti masa pandemi COVID-19, industri kelapa sawit tetap bertahan dan justru memberikan kontribusi penting bagi perekonomian nasional. “Kita mesti tetap jaya dan untuk dunia,” tandas Eddy. (T2)
