Koordinasi dari Program Studi Teknik Pertanian membawa mahasiswa mengenal alat-alat mekanis seperti spreader untuk pemupukan, crane grabber untuk pemanenan, hingga drone sprayer untuk penyemprotan pestisida. Langkah ini bertujuan menyiapkan mahasiswa menghadapi era modernisasi perkebunan, di mana efisiensi dan presisi menjadi kata kunci.
Melalui pengenalan alat-alat mekanisasi ini, mahasiswa belajar langsung bagaimana teknologi meningkatkan produktivitas kerja, sekaligus memahami sisi perawatan dan operasionalnya.
Bagian menarik dari praktek lapang ada di unit pilot plant INSTIPER. Di sini, mahasiswa dilatih mengolah tandan buah segar (TBS) menjadi crude palm oil (CPO), lalu diolah lagi menjadi produk-produk hilir seperti RBDPO, biodiesel, sabun, lilin, cookies, hingga margarin.
BACA JUGA: Benarkah Sawit Kehilangan Pangsa Pasar, Dinamika Global Memengaruhi
Program Studi Teknologi Hasil Pertanian menjadi motor utama dalam fase ini. Para mahasiswa tidak hanya belajar proses pengolahan, tetapi juga manajemen mutu, efisiensi proses, hingga pemanfaatan limbah.
Betti Yuniasih menambahkan bahwa desain kegiatan praktek lapang sengaja dibuat menyerupai kondisi industri sesungguhnya agar mahasiswa memiliki bayangan konkret tentang pekerjaan mereka di masa depan.
“Kita ingin memperkecil gap antara teori di kampus dan praktik di lapangan. Mahasiswa INSTIPER harus siap terjun ke industri tanpa canggung,” ujarnya.
Lebih dari itu, mahasiswa juga diajarkan aspek manajemen kebun, mulai dari administrasi, penyusunan anggaran, hingga analisis potensi wilayah—bekal penting bagi mereka yang kelak akan memegang posisi manajerial di industri.
Praktek lapang ini menjadi bukti sinergi antarprogram studi di INSTIPER yang mendorong pendekatan lintas disiplin untuk mencetak tenaga profesional di sektor perkebunan. Dalam konteks industri strategis seperti kelapa sawit, pendidikan tinggi berperan vital dalam mencetak SDM yang tidak hanya terampil, tetapi juga adaptif terhadap tantangan teknologi dan keberlanjutan. (T2)
