“STDB menjadi salah satu prasyarat untuk masuk ke pasar berkelanjutan. Kami berkomitmen membantu petani agar lebih siap menghadapi tantangan pasar global,” jelas Agus Wiastono.
Tak hanya fokus pada kelapa sawit, program SLV juga membuka jalan bagi diversifikasi ekonomi masyarakat desa. Dua demonstration plot (demplot) untuk budidaya kakao telah disiapkan, dan salah satunya sudah mulai difungsikan sebagai lahan percontohan.
Langkah ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk meningkatkan ketahanan ekonomi warga, sekaligus memperkenalkan komoditas bernilai tinggi yang dapat dijalankan berdampingan dengan sawit.
SLV merupakan implementasi langsung dari filosofi 5C milik Apical Group—Community, Country, Climate, Customer, and Company. Filosofi ini mendorong perusahaan untuk menciptakan nilai bersama dan mendorong kolaborasi lintas sektor demi masa depan yang berkelanjutan.
Dengan berbagai pencapaian yang telah diraih di tahun pertama, program SLV di Kutai Timur menjadi contoh nyata bagaimana kolaborasi antara perusahaan, pemerintah, dan masyarakat dapat melahirkan inisiatif pembangunan desa yang inklusif, hijau, dan berkelanjutan. Tahun kedua pun kini dimulai dengan semangat baru untuk memperluas dampak dan menyentuh lebih banyak kehidupan. (T2)
