InfoSAWIT, SANGATTA — Sebuah tonggak baru dalam sejarah sawit rakyat tercipta di Sangatta, Kutai Timur. Selama dua hari penuh, 14–15 Juli 2025, sebanyak 19 koperasi petani kelapa sawit swadaya dari berbagai penjuru Kalimantan Timur mendeklarasikan berdirinya Asosiasi Petani Sawit Berkelanjutan Kalimantan (APSBK). Bertempat di Hotel Grand Victoria, para petani berkumpul, berdiskusi, dan menyatakan tekad kolektif untuk menata masa depan mereka dalam pusaran pasar global yang makin ketat menuntut legalitas dan keberlanjutan.
Deklarasi ini tak sekadar seremoni. Di baliknya ada semangat kebersamaan dari sembilan koperasi yang telah mengantongi sertifikasi ISPO dan RSPO, didukung sebelas koperasi lainnya yang sedang berproses menuju standar keberlanjutan. Bersama, mereka mewakili suara lebih dari 4.600 petani swadaya dan produksi tandan buah segar (TBS) tersertifikasi yang mencapai 223.860 ton per tahun.
“Kami berkomitmen untuk menjunjung prinsip keberlanjutan, membangun solidaritas antarwilayah, serta menjadi mitra strategis pemerintah, perusahaan, dan masyarakat sipil,” tegas Jamaluddin, Ketua APSBK, dalam keterangan resmi kepada InfoSAWIT, Rabu (16/7/2025).
BACA JUGA: IEU–CEPA Capai Terobosan Bersejarah, Prabowo dan Uni Eropa Perkuat Kemitraan Strategis
Dalam pernyataannya, Jamaluddin menyebut bahwa kelapa sawit telah menjadi penggerak ekonomi rakyat. Namun, di tengah gempuran regulasi seperti ISPO, RSPO, NDPE, hingga EUDR dari Uni Eropa, petani swadaya kerap menjadi pihak yang tertinggal. Karena itu, lanjutnya, pembentukan APSBK menjadi langkah strategis untuk membangun kekuatan kolektif yang mampu bersuara dalam arena kebijakan dan rantai pasok berkelanjutan.
Momentum deklarasi ini juga ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding atau MoU) antara empat koperasi sawit swadaya dengan sejumlah pihak perusahaan. MoU ini menjadi sinyal dimulainya kemitraan jangka panjang berbasis kepastian pasar dan prinsip berkeadilan—sebuah landasan penting dalam membangun relasi antara produsen kecil dan pelaku industri.
Dukungan nyata terhadap lahirnya APSBK datang dari Bupati Kutai Timur, Ardiansyah Sulaiman, yang turut hadir dan memberikan sambutan penuh semangat. Ia menyambut baik inisiatif petani dan menyebut asosiasi ini sebagai kekuatan baru yang diharapkan mampu menggerakkan kesejahteraan dari bawah.
BACA JUGA: Perusahaan Sawit PT Banyu Kahuripan Indonesia Dihukum Bayar Rp282 Miliar, Terkait Gugatan Lingkungan
“Asosiasi ini harus menjadi penggerak utama dalam memastikan petani swadaya meraih kesejahteraan. Saya senang, asosiasi ini memiliki misi yang sinergis dengan pemerintah,” ujarnya.
Namun demikian, Ardiansyah juga mengingatkan pentingnya legalitas lahan sebagai isu krusial. Ia menyoroti meningkatnya pengawasan dari pemerintah pusat terhadap perkebunan rakyat, terutama yang berada di kawasan yang belum memiliki kejelasan tata ruang.
“Saya mengkhawatirkan kebun rakyat yang berada di kawasan. Saya ingatkan Dinas Perkebunan, tolong rajin ke lapangan dan aktif berkoordinasi. Kutai Timur ingin menjadi pusat hilirisasi turunan kelapa sawit,” tandasnya.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Plasma Riau Periode 16-22 Juli 2025 Naik Rp69,51 per Kg
Sebelum deklarasi, perwakilan 19 koperasi menggelar forum diskusi yang membahas tantangan nyata yang dihadapi petani sawit swadaya. Dari keterbatasan akses pendanaan, kendala legalitas lahan, minimnya pelibatan petani dalam proses pengambilan keputusan kebijakan, hingga kebutuhan untuk membuka akses pasar yang adil. Forum ini menjadi fondasi awal bagi penyusunan program prioritas APSBK ke depan. (T2)
