“Kami menduga tumpukan daun itu menjadi tempat sarang beruang tersebut. Tapi kami akan melakukan pengecekan ke lapangan untuk memastikan apakah beruang itu bersarang atau hanya beristirahat sesaat,” kata Muriansyah.
Menindaklanjuti laporan tersebut, BKSDA Resort Sampit berencana memasang perangkap beruang yang sebelumnya digunakan di Desa Makarti Jaya, Kecamatan Pulau Hanaut. Namun, pemantauan lebih dulu akan dilakukan oleh pihak perusahaan untuk memastikan keberadaan beruang di sekitar lokasi.
“Kami minta pemantauan dilakukan dengan memperhatikan keselamatan, sebaiknya menggunakan mobil dan membuat suara gaduh karena beruang cenderung menghindari keributan,” imbaunya.
Jika hasil pemantauan membuktikan masih ada beruang madu di area tersebut, BKSDA akan memasang perangkap. Namun jika tidak ditemukan tanda-tanda keberadaan satwa, maka akan dilakukan observasi lanjutan dan pemasangan spanduk peringatan agar masyarakat dan pekerja berhati-hati.
“Spanduk akan kami koordinasikan dengan pihak perusahaan agar semua pihak, termasuk warga luar yang masuk ke area perkebunan seperti pemancing, bisa lebih waspada,” terang Muriansyah.
Ia juga mengimbau perusahaan-perusahaan di Kotim agar segera melaporkan jika menemukan satwa liar dilindungi di area Hak Guna Usaha (HGU) mereka. Langkah ini penting agar BKSDA bisa menentukan apakah hewan tersebut hanya melintas atau memang tinggal di lokasi, sekaligus menerapkan langkah mitigasi yang tepat.
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Naik pada Rabu (23/7), Perdagangan CPO di Bursa Malaysia Menguat
Sebagai catatan, laporan kemunculan beruang di wilayah Kotim memang tergolong sering. Terbaru, pada Sabtu (19/7), BKSDA juga menerima laporan adanya jejak beruang di Desa Bapanggang Raya, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang. Beberapa pohon sawit milik warga terlihat dirusak.
“Tim kami sudah turun ke lokasi pada Minggu (20/7) dan memasang perangkap model tong. Kami juga mengimbau warga untuk tetap waspada dan segera melapor jika melihat tanda-tanda keberadaan beruang,” pungkas Muriansyah. (T2)
