“Dari riset ini saya belajar bahwa kesabaran metodologis dan ketelitian sistemik adalah kunci. Menggabungkan rekayasa proses, ekonomi, dan kebijakan publik dalam satu model menunjukkan bahwa sains tidak hanya hidup di laboratorium, tetapi juga harus berpijak pada realitas industri,” tutur Afriya.
Lebih jauh, Afriya berharap hasil penelitiannya dapat menjadi blueprint nasional untuk transformasi industri kelapa sawit menuju ekosistem energi hijau dan ekonomi sirkular. Ia juga mendorong agar model biorefinery yang dikembangkannya dapat dijadikan acuan pembangunan pilot plant di Sumatra dan Kalimantan, guna mendukung kebijakan Sustainable Aviation Fuel (SAF) blending mandate di sektor penerbangan nasional.
Menurutnya, kemenangan ini bukan sekadar penghargaan akademik, tetapi juga bentuk validasi terhadap riset lintas-disiplin yang digarap secara konsisten dan berbasis data.
“Kemenangan ini membuktikan bahwa riset dari Indonesia mampu bersaing di tingkat internasional. Lebih dari itu, penelitian harus bisa diterjemahkan menjadi solusi konkret bagi transisi energi dan keberlanjutan industri,” pungkas Afriya. (T2)
