Ia juga menegaskan bahwa industri sawit bukan hanya soal perkebunan, tetapi telah menjadi ekosistem besar yang mencakup sektor pengolahan, logistik, refinery, hingga teknologi digital.
Pada Palmex Indonesia 2026, teknologi menjadi sorotan utama. Jika sebelumnya industri berbicara mengenai konsep Industri 4.0, kini pelaku usaha mulai bergerak menuju Industri 5.0 yang menekankan kolaborasi manusia dan mesin.
“Sekarang bukan lagi sekadar otomatisasi, tetapi bagaimana manusia bekerja berdampingan dengan teknologi untuk menciptakan efisiensi yang lebih baik,” jelasnya.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Swadaya Riau Periode 6 – 12 Mei 2026 Naik Rp26,17 per Kg
Kenny mengungkapkan lebih dari 60 persen peserta pameran tahun ini menampilkan teknologi baru berbasis AI dan digitalisasi. Beberapa teknologi yang dipamerkan antara lain sistem sensor untuk mendeteksi kualitas buah sawit, pemantauan keberlanjutan, hingga teknologi pelacakan asal bahan baku.
Menurutnya, perkembangan AI di industri sawit bukan untuk menggantikan tenaga kerja sepenuhnya, melainkan meningkatkan kualitas pekerjaan dan produktivitas sumber daya manusia.
“Teknologi membantu meningkatkan kemampuan manusia dan menciptakan jenis pekerjaan baru,” katanya.
BACA JUGA: Program “Brondol Sawit” Pasaman Barat Digenjot, Kolaborasi Perusahaan Sawit untuk Tekan Stunting
Selain efisiensi, Palmex Indonesia 2026 juga mendorong aspek keberlanjutan industri sawit. Kenny menyebut sejumlah perusahaan menghadirkan sistem pelacakan yang mampu memastikan asal-usul buah sawit dan mendukung praktik keberlanjutan di rantai pasok.
Ia menilai teknologi digital memiliki peran penting dalam membantu industri sawit memenuhi tuntutan transparansi dan sustainability global.
“Industri sawit sedang bergerak menuju praktik yang lebih berkelanjutan, dan teknologi menjadi bagian penting dalam proses itu,” tutupnya. (T2)
