Bak bertepuk sebelah tangan, melesatnya permintaan pasar yang berasal dari konsumen, tidak turut mendorong tumbuhnya pasokan yang berasal dari perkebunan kelapa sawit. Lantaran, pasokan global yang berasal dari Indonesia dan Malaysia, justru mengalami stagnasi berkepanjangan. Alhasil, pertumbuhan konsumsi minyak nabati di pasar global, tidak dapat diimbangi dengan pertumbuhan produksi, yang berasal dari perkebunan kelapa sawit semata.
Persaingan pasar global, selalu mendampuk keberadaan minyak sawit diantara minyak soybean (kacang kedelai) dan minyak sunflower (biji matahari) yang selalu bertumbuh luasan lahan dan produksinya setiap tahun. Sangat kontras, dengan keberadaan pertumbuhan lahan perkebunan kelapa sawit, yang masih terus mengalami keterbatasan dan berbagai hambatan regulasi, namun produksinya terus bertumbuh.
Gambaran diatas itulah, yang secara dinamika terus terjadi di dalam bisnis minyak sawit. Kondisi terkini, juga masih terus bergelut dengan mahalnya harga minyak goreng di pasar domestik dan menjadikan kegaduhan masyarakat luas. Secara nyata, keberadaan perkebunan kelapa sawit, telah memberikan kontribusi nyata bagi perekonomian masyarakat luas dan pendapatan besar bagi devisa negara.
Peradaban manusia yang berhasil dibangun perkebunan kelapa sawit, telah secara nyata pula, turut mendorong berbagai dinamika pembangunan dan pemikiran yang terus bertumbuh. Berasal dari pembangunan perkebunan kelapa sawit di daerah pelosok dan terpencil, menyebarkan berbagai produk turunan minyak sawit di berbagai kota hingga negara tetangga.
Akhirnya, minyak sawit bisa menjadi bagian dari solusi yang diinginkan bagi kemajuan peradaban manusia, namun bisa pula, menjadi sumbatan dan penghalang bagi pihak yang tidak menginginkannya. Dimanakah pemikiran dan keberpihakan kita?
Sumber: Editorial Majalah InfoSAWIT Edisi Februari 2022
