InfoSAWIT, JAKARTA – Dikatakan Ketua Bidang Ketenagakerjaan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit (GAPKI), Sumarjono Saragih, pemantauan tenaga kerja untuk seluruh kelompok yang mengusahakan perkebunan kelapa sawit menjadi sangat penting, guna mengawasi bagaimana perlindungan tenaga kerjanya dilakukan dan mempekerjakan siapa. “Seringkali kondisinya industri kelapa sawit yang akan selalu memikul tanggung jawab tersebut,” katanya.
Sebab itu kata Sumarjono, sebaiknya dikedepankan untuk mencari solusi bersama, disertai dengan penegakan hukum yang tegas. Sementara untuk perkebunan kelapa sawit swasta besar sudah ada instrumennya, baik itu untuk penegakan hukum maupun dalm mempekerjakan perempuan. Perlu juga dilihat bahwa apakah dengan mempekerjakan perempuan itu ada upaya eksploitasi.
Perlu juga dipahami bahwa biasanya para perempuan akan bekerja di perkebunan kelapa sawit bila mereka dalam kondisi butuh, sementara bila pilihannya menjadi karyawan mesti mengikuti aturan dan kebijakan yang telah ditetapkan.
BACA JUGA: Terkait Transisi Energi Terbarukan, TPN Paslon Capres dan Cawapres Dianggap Belum Tawarkan Solusi
Maka itu biasanya para perempuan tersebut akan lebih memilih bekerja bila ada kebutuhan, dimana kondisi ini masih tidak tersentuh oleh regulasi. “Maka mereka bekerja secara musiman, apakah kemudian persyaratannya dipenuhi? Lagi-lagi fungsi pengawasan menjadi kunci utama,” katanya.
Lebih lanjut kata Sumarjono, dulu pernah muncul istilah Family Gank, dan itu tidak dipermasalahkan, namun kini bila terdapat anak dibawa ke lapangan untuk kutip berondolan sudah tidak bisa dilakukan lantaran melanggar regulasi.
Sebab itu perlu dilakukan pemilahan kasus per kasus sembari melakukan penegakan hukum secara tegas. Pengawasan pun perlu dilakukan karena inti dari mencegah terjadinya pelanggaran adalah dilakukannya pengawasan.
BACA JUGA: Sawit Bisa Lindungi Pekerja Perempuan, Regulasi Memagari
Sumarjono mengungkapkan, untuk menangani masalah pekerja sawit, perusahaan perkebunan telah melakukan hal-hal yang melampaui tugasnya, namun demikian masih ada pekerjaan rumah yang perlu dilakukan yakni terkait tenaga kerja di rantai pasok. “Pihak korporasi sudah melakukan perbaikan, apakah kemudian itu sudah selesai? Kini rantai pasok menjadi tantangan kedepan,” katanya
Industri perkebunan kelapa sawit sudah terlalu besar, termasuk besar juga permasalahannya, maka itu, perlu ada upaya besar dari kelompok yang besar untuk terus mencari solusinya. Sebelumnya upaya solusi itu dilakukan secara parsial, pada akhirnya kemajuan penyelesaian masalah tersebut menjadi sangat lambat. Dan pencarian solusi itu tidak hanya terkait pada isu perempuan dan anak, tetapi lebih besar lagi bagaimana menyelesaikan permasalahan bisnis global dan konflik sosial, termasuk persaingan dagang. (T2)
