“Masih banyak petani yang belum merasakan manfaat ekonomi maksimal dari kebunnya. Mereka enggan melakukan replanting karena harus menunggu 2-3 tahun sebelum panen. Ini perlu diatasi dengan insentif dan pendampingan,” jelasnya.
Di sisi hilir, BPDP mendorong diversifikasi pasar, termasuk ekspor produk sampingan sawit seperti bungkil dan cangkang ke Korea Selatan dan Jepang. “Ekspor tidak lagi terbatas pada minyak sawit mentah. Produk turunannya kini menjadi andalan baru,” ucap Achmad.
BPDP juga menggandeng perbankan dan investor asing untuk memperkuat pendanaan program. Achmad menyebutkan, pendaftaran tahap kedua Program Keluarga Harapan (PKH) untuk petani akan digelar di Bandung.
BACA JUGA: Mentan Amran Sebut Indonesia Tak Akan Biarkan Industri Sawit Diganggu
“Kami optimistis target swasembada pangan dan energi terbarukan tercapai jika semua pihak bergerak bersama. Ini momentum menuju Indonesia Emas 2045,” tegasnya.
Dengan dukungan kebijakan pemerintah dan potensi sumber daya alam yang melimpah, BPDP yakin Indonesia dapat menjadi pemain utama di panggung global, sekaligus menjawab tantangan ketahanan pangan dan energi masa depan. (T2)
