InfoSAWIT, BERAU — Di tengah dominasi sektor pertambangan, Kabupaten Berau mulai menunjukkan geliat transformasi ekonomi yang lebih berimbang. Data terbaru mencatat bahwa sepanjang tahun 2024, sektor perkebunan memberikan kontribusi signifikan terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) daerah, yakni sebesar 7,66 persen. Angka ini menjadi bagian penting dari total kontribusi sektor pertanian yang mencapai 13 persen terhadap PDRB.
Kepala Dinas Perkebunan Berau, Lita Handini, menyebut pertumbuhan sektor ini didorong oleh kenaikan produksi serta lonjakan harga komoditas kelapa sawit, yang mencatat performa kuat di pasar nasional maupun global.
“Kenaikan produksi dan harga komoditas berdampak langsung terhadap kontribusi pajak serta bagi hasil. Itu yang mendongkrak angka PDRB dari sektor perkebunan,” ujar Lita dilansir InfoSAWIT dari Mediakaltim, Jumat (18/7/2025).
Meski pertambangan masih mendominasi struktur ekonomi Berau dengan sumbangan nyaris 60 persen dari total PDRB, Lita optimistis bahwa perkebunan, khususnya kelapa sawit, dapat menjadi sektor penyeimbang dalam jangka panjang.
“Perkebunan ini sifatnya lebih berkelanjutan dan menyerap banyak tenaga kerja. Ini bisa jadi pondasi ekonomi kita di masa depan,” ujarnya.
Namun, di tengah pertumbuhan tersebut, isu lingkungan tetap menjadi perhatian. Lita tidak menampik bahwa pembukaan lahan sawit kerap dikaitkan dengan kerusakan ekologis. Meski begitu, ia menegaskan bahwa dampak dari perkebunan relatif lebih mudah dipulihkan dibanding sektor ekstraktif seperti tambang.
“Kalau sawit, dua sampai tiga tahun saja sudah tertutup vegetasi lagi. Jadi lebih cepat pulih,” katanya.
Lebih lanjut, Lita menjelaskan bahwa karakteristik tanaman sawit justru memberi manfaat ekologis, terutama dalam hal pengelolaan air. Akar serabut sawit yang tumbuh dalam membantu menyerap air secara efektif, sehingga mengurangi risiko banjir dan menjaga keseimbangan air tanah.
