InfoSAWIT, MUMBAI — Pergeseran konsumsi minyak makan di India dari minyak sawit ke minyak kedelai diperkirakan hanya berlangsung sementara. Menurut Direktur Kebijakan dan Strategi CPOPC, Chandran Gunalan, perubahan preferensi konsumen India sangat dipengaruhi oleh dinamika harga jangka pendek—bukan pergeseran tren jangka panjang.
Gunalan menegaskan negara-negara produsen utama minyak kedelai seperti Amerika Serikat dan Brasil kini semakin agresif memperluas kebijakan biodiesel, sehingga pasokan soyoil global untuk ekspor berpotensi menyusut. “Kebijakan biodiesel negara produsen akan menyerap lebih banyak minyak kedelai. Jadi, pergeseran permintaan India ke soyoil tidak akan permanen,” ujarnya.
Revisi Tarif Impor Dorong Kenaikan Permintaan CPO
Sejak pemerintah India menurunkan bea masuk CPO dari 20% menjadi 10% pada 30 Mei, impor sawit mentah ke India meningkat signifikan. Sementara itu, bea masuk minyak olahan tetap berada di 35,75%, sehingga memperlebar selisih tarif antara minyak mentah dan olahan dari 8,25% menjadi 19,25%.
Kondisi ini membuat impor sawit kembali menggeliat. India mengimpor 3,4 juta ton minyak sawit pada Juni–September, naik 27% dibanding tahun lalu. Khusus September, impor mencapai 824.761 ton, hampir dua kali lipat dari 2024.
India dikenal sebagai pasar yang sangat sensitif harga. “Selisih harga US$10 saja bisa langsung menggeser permintaan antara sawit dan soyoil,” ujar Gunalan dilansir InfoSAWIT dari Informist Media, Minggu (30/11/2025).
Pada Januari–Mei, impor minyak sawit India turun menjadi 1,6 juta ton dari 2,3 juta ton pada periode yang sama tahun lalu, sementara impor soyoil meningkat menjadi 1,8 juta ton. Kondisi ini dipicu harga sawit yang berada sedikit di atas soyoil, serta kekhawatiran pedagang terhadap potensi kenaikan pajak impor.
Namun setelah revisi tarif, aliran impor sawit kembali meningkat, sementara impor RBD palmolein turun drastis menjadi 0 ton pada September, dari 84.279 ton pada tahun sebelumnya.
Gunalan memperkirakan impor sawit India mencapai 4–5 juta ton pada 2026, sementara pada 2025 diperkirakan lebih rendah di kisaran 3 juta ton.
Menanggapi kekhawatiran pasar mengenai potensi pengetatan pasokan akibat ambisi Indonesia menerapkan biodiesel B50, Gunalan memastikan tidak akan ada dampak signifikan terhadap ekspor. Kebutuhan tambahan sawit untuk mendukung B50 diperkirakan hanya 1–2 juta ton.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Jambi Periode 28 November – 4 Desember 2025 Naik Rp 9,15 per Kg
“Stok Indonesia cukup kuat. Tidak ada indikasi pasokan akan mengetat hingga mengganggu ekspor,” tegasnya.
Prospek Produksi Sawit Global
Gunalan memperkirakan produksi sawit global 2025 berada di kisaran 82 juta ton, dan meningkat menjadi 82–83 juta ton pada 2026. Jumlah ini jauh melampaui proyeksi produksi minyak kedelai global yang hanya 70,8 juta ton.
