Bahkan, batik hasil produksi perusahaan tersebut telah diperkenalkan ke sejumlah negara seperti Jepang, China, dan Pakistan sebagai bagian dari promosi produk berbasis sawit Indonesia.
“BPDP banyak membantu kami, baik dalam pengembangan produk maupun promosi. Dukungan itu masih terus kami rasakan hingga sekarang,” katanya.
Sementara itu, Pemimpin Redaksi Majalah Hortus Archipelago, Suharno, menjelaskan bahwa kunjungan ke Smart Batik merupakan bagian dari rangkaian Workshop Pemberdayaan UKMK Magelang dan Promosi Sawit Baik 2026. Kegiatan tersebut bertujuan memberikan inspirasi sekaligus memperlihatkan secara langsung bagaimana inovasi dapat menciptakan nilai tambah dari produk turunan sawit.
Menurut Suharno, pengalaman Smart Batik menunjukkan bahwa sawit memiliki potensi yang jauh lebih luas dibandingkan persepsi masyarakat selama ini.
“Peserta dan wartawan dapat belajar bagaimana sebuah UKMK membangun usaha melalui inovasi, kemitraan, dan pemanfaatan produk turunan sawit yang bernilai ekonomi tinggi,” ujarnya.
Melalui berbagai program inkubasi bisnis, pelatihan, workshop inovasi, hingga fasilitasi promosi, BPDP terus berupaya memperkuat ekosistem UKMK berbasis kelapa sawit. Upaya tersebut diharapkan mampu melahirkan lebih banyak produk inovatif bernilai tambah, sekaligus memperluas pemanfaatan sawit Indonesia ke sektor-sektor nontradisional yang memiliki potensi pasar besar.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Plasma Riau 17-23 Juni 2026 Naik Tipis
Dengan semakin banyaknya inovasi seperti malam sawit untuk industri batik, hilirisasi kelapa sawit tidak hanya menjadi strategi peningkatan nilai ekonomi, tetapi juga membuka peluang baru bagi tumbuhnya industri kreatif berbasis sumber daya dalam negeri. (T2)
