InfoSAWIT, SANGATTA – Forum Petani Kelapa Sawit (FPKS) Kutai Timur (Kutim) menggelar konsolidasi penuh semangat di Pelangi Room Hotel Royal Victoria pada Kamis. Acara ini menjadi ajang penting memperkuat sinergi antara petani, perusahaan, dan pemerintah daerah dalam membangun masa depan industri sawit yang berkelanjutan.
Wakil Bupati Kutim, Mahyunadi, yang hadir langsung dalam kegiatan ini, menyampaikan harapannya agar kelapa sawit dapat menjadi tumpuan utama perekonomian Kutim ketika cadangan batu bara habis.
“Sawit akan menjadi primadona jika batubara sudah tidak ada. Karena itu, industri hilir harus disiapkan sejak sekarang,” tegas Mahyunadi dilansir InfoSAWIT dari ProKutim, Jumat (25/4/2025).
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Jambi Periode 25 April- 1 Mei 2025 Turun Tipis Cenderung Stagnan
Ia juga mengingatkan pentingnya pengelolaan hasil sawit secara bijak oleh para petani dan perusahaan. Mahyunadi menyoroti persoalan harga dan konflik lahan yang kerap terjadi, serta mendorong penyelesaiannya secara musyawarah dan kekeluargaan.
“Ketika ada masalah harga, persoalan lahan, dan tumpang tindih, mari diselesaikan secara baik. Kita harus terus bertukar pendapat untuk memajukan petani sawit,” imbuhnya.
Selain itu, ia menekankan pentingnya dukungan akses terhadap pupuk dan kestabilan harga sawit bagi petani, namun tetap dalam koridor aturan hukum, termasuk kepatuhan terhadap dokumen lingkungan seperti AMDAL. Menurutnya, koordinasi yang erat dengan pemerintah daerah akan mencegah benturan kebijakan di lapangan.
BACA JUGA: Teladan Prima Agro Pastikan Akuisisi Strategis dan Tegaskan Fokus Pasar Domestik
Dukungan serupa disampaikan Ketua FPKS Kutim, Nasruddin. Ia menegaskan komitmen forum untuk menjaga harmoni antara petani dan perusahaan, serta menghindari pendekatan kekerasan dalam menyelesaikan sengketa lahan.
“Forum ini tidak akan tinggal diam jika terjadi konflik. Kami mendorong komunikasi kekeluargaan dan musyawarah. Petani swadaya bukan perambah hutan, mereka hanya ingin bertahan hidup,” ujarnya.
Nasruddin juga berharap perusahaan perkebunan di Kutim membuka ruang diskusi dan penyelesaian konflik secara damai. Ia menilai petani perlu diakui sebagai bagian dari pihak yang ikut menjaga kenyamanan investasi dan aset perusahaan.
BACA JUGA: Tarif Resiprokal Trump Ancam Ekspor Sawit, Petani Swadaya Bisa Terdampak Berat
Sementara itu, Ketua FPKS Kalimantan Timur, Asbudi, turut menegaskan pentingnya kehadiran forum dalam mendukung program pemerintah dan memperjuangkan kepentingan petani secara konstruktif.
Konsolidasi ini menjadi momentum strategis untuk mempererat kolaborasi antar pihak, dengan harapan besar terhadap kemajuan industri sawit Kutai Timur yang inklusif dan berkelanjutan. (T2)
