Langkah selanjutnya, menurutnya, adalah proses rehabilitasi kawasan. KLHK diharapkan segera menetapkan kebijakan reforestasi dan penghutanan kembali lahan yang rusak. Upaya pemulihan ini dinilai krusial untuk memulihkan fungsi ekologis Tesso Nilo dan menjaga keberlangsungan spesies yang bergantung padanya.
“Harapannya, Tesso Nilo bisa kembali menjadi kawasan hutan tropis yang utuh dan lestari, seperti yang dulu dirancang sebagai habitat gajah dan pusat keanekaragaman hayati. Ini bukan sekadar taman nasional, ini adalah warisan untuk generasi mendatang,” pungkas Harli.
Kondisi Tesso Nilo saat ini menjadi cermin darurat konservasi di Indonesia. Jika tak segera ditangani, ancaman terhadap hutan dan satwa liar akan terus membesar—dan yang hilang bukan hanya hutan, tapi juga harapan. (T2)
