Berbeda dengan itu, biofuel generasi kedua berasal dari biomassa kayu atau limbah pertanian. Bahan bakunya tidak bersaing langsung dengan pangan karena berasal dari produk sampingan atau ditanam di lahan marginal. Di sinilah Pongamia menonjol: tanaman ini bisa tumbuh di tanah miskin hara, tahan panas, dan menghasilkan minyak nabati berkadar tinggi.
Peran untuk Menekan Emisi Pertanian
Pertanian sendiri menyumbang 13 persen emisi karbon dioksida Australia, dengan 66 persen di antaranya berasal dari metana hewan ruminansia. Untuk itu, penanaman pohon skala besar kerap diproyeksikan sebagai solusi offset karbon. ClimateWorks Australia memperkirakan negeri itu membutuhkan penyerapan 45 juta ton CO₂ melalui “hutan karbon” hingga 2030, agar mampu menahan laju pemanasan global di bawah 2℃.
Namun, strategi ini juga mengandung risiko: penggunaan lahan luas untuk hutan karbon bisa menggeser produksi pangan, sama seperti polemik biofuel generasi pertama. Oleh karena itu, keberadaan tanaman seperti Pongamia memberi alternatif yang lebih seimbang—mampu menyerap karbon, menghasilkan bahan bakar terbarukan, dan tidak mengorbankan pangan. (T2)
