InfoSAWIT, KUALA LUMPUR – Asosiasi Minyak Sawit Malaysia (MPOA) kecewa lantaran Anggaran tahun 2024 mengabaikan dua permintaan penting yang seharusnya menjadi pendorong utama pertumbuhan industri ini.
Diantaranya adalah peninjauan komprehensif terhadap retribusi keuntungan industri kelapa sawit, dan insentif pajak untuk intensifikasi penanaman kembali (replanting) pohon kelapa sawit yang sudah tua.
Tercatat MPOA mewakili lebih dari 40 persen total area tanam di Malaysia. Keanggotaannya mencakup perusahaan perkebunan besar seperti Sime Darby Plantation Bhd, FGV Holdings Bhd dan Sarawak Oil Palm Bhd.
BACA JUGA: Presiden Jokowi: Cabut Larangan Impor Minyak Sawit Srilanka, Bentuk Mekanisme Khusus
Diungkapkan Kepala Eksekutif Joseph Tek Choon, retribusi keuntungan yang tidak terduga saat ini, merupakan beban bagi sektor kelapa sawit yang beroperasi sebagai pihak pengambil harga dan bukan pembuat harga.
Kata Joseph Tek Choon, pihaknya telah meminta pemerintah untuk mengembalikan tarif pungutan di Sabah dan Sarawak menjadi 1,5 persen dari 3,0 persen saat ini, serta menaikkan ambang batas pungutan yang akan dikenakan sebesar RM 500 per ton.
Revisi tersebut akan menaikkan ambang batas menjadi RM 3.500 per ton untuk petani di Semenanjung Malaysia, dan RM 4.000 per ton untuk Sabah dan Sarawak.
BACA JUGA: Harga Saham SSMS, PSGO, TBLA, DSNG dan MKTR Jadi TOP 5 Harga Saham Sawit Selasa 17 Oktober 2023
Peninjauan terhadap tarif dan ambang batas pungutan yang dikenakan akan sangat membantu untuk mengatasi beban yang tidak proporsional yang dialami petani kelapa sawit di Sabah dan Sarawak.
