InfoSAWIT, JAKARTA – Para pemangku kepentingan di Aceh sepakat untuk meningkatkan kolaborasi konservasi hutan melalui penilaian Nilai Konservasi Tinggi dan Stok Karbon Tinggi (NKT/SKT) dari hutan tropis di Aceh Timur dan Aceh Tamiang.
Penilaian ini akan digunakan untuk mengidentifikasi nilai konservasi dan karbon, yang bisa berkontribusi bagi usaha-usaha mitigasi perubahan iklim, membangun ketahanan iklim, melindungi keanekaragaman hayati dan jasa-jasa lingkungan, mendukung penghidupan masyarakat setempat, dan menghormati hak-hak komunitas serta akses ke sumber daya dan nilai-nilai budaya.
Kolaborasi ini dilakukan oleh Pemerintah Aceh, Pemerintah Aceh Timur, Pemerintah Aceh Tamiang, Unilever, PepsiCo, Musim Mas, IDH (di Indonesia bekerjasama dengan Yayasan Inisiatif Dagang Hijau), Yayasan Ekosistem Lestari (YEL), Forum Konservasi Leuser (FKL), Yayasan Masyarakat Kehutanan Lestari (YMKL), Forest People Program (FPP), Proforest, dan Remark Asia.
BACA JUGA: Batik dan Hiasan Sawit Warnai Trade Expo Indonesia
Diungkapkan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Aceh (BAPPEDA Aceh), Teuku Ahmad Dadek, pemerintah Aceh menyambut baik dan mengapresiasi para pemangku kepentingan yang telah menginisiasi penilaian NKT/SKT berbasis lanskap di Aceh Timur dan Aceh Tamiang.
“Kami berharap penilaian ini, yang mengintegrasikan aspek-aspek lanskap, lingkungan, sosial-ekonomi, serta partisipatif, pada tingkatan lanskap akan dapat memberikan hasil yang lebih detail dan terkonfirmasi,” ujarnya dalam keterangan resmi diterima InfoSAWIT, Senin (24/10/2022).
Demikian pula diungkapkan, Bupati Aceh Timur Teungku Hasballah M. Thaib, pihaknya berharap inisiatif yang terintegrasi ini akan dapat dilakukan secara komprehensif, untuk memberikan kepastian tentang area mana yang aman untuk produksi komoditas berkelanjutan dan area mana yang harus dilindungi.
BACA JUGA: Harga CPO Diprediksi Menguat, Musim Hujan Dikhawatirkan Batasi Pasokan
Terkait kolaborasi berbagai pemangku kepentingan, Manajer Lanskap IDH, Riswan mengatakan, dengan adanya kolaborasi strategis sangatlah dibutuhkan dan menjadi semakin penting untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor, memaksimalkan perlindungan hutan, dan meminimalisir dampak-dampak sosial.
Sementara Director of Sustainability Musim Mas, Olivier Tichit mengungkapkan, dukungan untuk inisiatif ini merupakan bagian dari Strategi Lanskap Aceh Musim Mas, dan komitmen kami dalam hal No Deforestation, No Peat, and No Exploitation (NDPE). “Kami percaya dengan pendekatan pastisipatif untuk mengatasi deforestasi adalah cara terbaik yang akan memberikan dampak yang signifikan,” kata Olivier Tichit. (T2)