InfoSAWIT, JAKARTA — Di tengah gempuran persepsi negatif terhadap industri kelapa sawit, muncul sebuah narasi berbeda yang mengangkat sisi lain dari wajah sawit Indonesia. Narasi ini bukan sekadar klaim, tetapi disertai dengan jejak nyata, dari klinik kesehatan di tengah kebun hingga sekolah gratis bagi anak-anak pekerja. Di balik bayang-bayang tudingan, kelapa sawit diam-diam telah menyemai benih generasi emas masa depan.
Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), melalui Ketua Bidang Pengembangan SDM-nya, Sumarjono Saragih, menegaskan bahwa sawit tidak hanya layak dipuji karena kontribusinya terhadap ekonomi nasional—yang tahun ini kembali menyumbang lebih dari Rp600 triliun dalam bentuk devisa—tetapi juga karena komitmennya membangun manusia sejak dini, dari desa-desa terpencil tempat kebun sawit berada.
“Kadang kita terlalu sibuk mengingat sisi gelap. Padahal, potensi sawit sebagai pendorong lahirnya generasi emas sangat nyata,” ujar Sumarjono, yang juga merupakan pendiri Worker Initiatives for Sustainable Palm Oil (WISPO).
BACA JUGA: BRIN Dorong Pemanfaatan Limbah Sawit Jadi Bioetanol G2
Menilik ke belakang, sejarah panjang perkebunan di Indonesia memang berakar dari masa kolonial. Namun tidak semua warisan itu negatif. Salah satu jejak yang masih bertahan hingga kini adalah perhatian terhadap kesehatan dan pendidikan. Sebagai contoh, Rumah Sakit Putri Hijau di Medan, yang kini dikelola TNI AD, dulunya dibangun oleh perusahaan perkebunan tembakau Deli Maatschappij pada 1885.
Budaya serupa terus dilanjutkan oleh industri kelapa sawit masa kini. Klinik dengan tenaga medis siaga 24 jam bukan hal langka di tengah perkebunan. Fasilitas pengasuhan anak juga disediakan, mulai dari taman penitipan anak hingga sekolah dari tingkat TK hingga SMA. Anak-anak karyawan mendapatkan akses pendidikan gratis, sementara anak-anak warga sekitar pun dapat menikmati fasilitas yang sama selama memenuhi syarat.
Puncak peringatan Hari Dunia Menentang Pekerja Anak (HDMPA) tahun ini pun digelar di lokasi yang tidak biasa, langsung di tengah perkebunan kelapa sawit. Bertajuk “Ceria Bersama Anak Kebun Sawit”, acara tersebut digelar di kebun Wilmar PT AMP, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, dengan dukungan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA), pemerintah kabupaten, dan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP).
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Naik Tipis Pada Kamis (26/6), Harga CPO di Bursa Malaysia Serupa
Anak-anak karyawan menjadi peserta utama acara. Mereka menunjukkan berbagai talenta: bernyanyi, menari, membaca puisi — semua dalam suasana penuh keceriaan dan kebanggaan. “Mereka bukan pekerja anak, tapi anak-anak yang hidup di tengah sistem yang menghormati hak mereka,” ujar Sumarjono dalam pernytaannya kepada InfoSAWIT, Sabtu (28/6/2025).
