Surat Terbuka Petani Sawit Aspekpir Untuk Jokowi, Cabut Larangan Ekspor CPO

oleh -2.034 Kali Dibaca
InfoSAWIT
Dok. Sawit Fest 2021/foto: Dea Kinanti/ Ilustrasi kebun sawit

InfoSAWIT, JAKARTA – Hari Raya Idul Fitri kemarin tidak ada gejolak dan kelangkaan minyak goreng sawit padahal kebutuhan meningkat tajam. Artinya kebijakan pelarangan ekspor mampu mempengaruhi pasokan di dalam negeri.

“Karena tujuan sudah tercapai maka saatnya pemerintah mencabut larangan ekspor CPO dan produk turunannya,” demikian bunyi surat terbuka yang ditulis petani sawit ditujukan ke Presiden Joo Widodo diterima InfoSAWIT, belum lama ini.

Kebijakan yang berlaku sejak tanggal 28 April dan sampai sekarang belum dicabut ini sudah menghancurkan ekonomi petani sebagai komponen paling hulu dari rantai pasok minyak kelapa sawit.

BACA JUGA: Petani Sawit Kalbar: Menjadi Anggota Aspekpir Mempermudah Mengelola Kebun Sawit

Catat petani yang tergabung dalam Asosiasi Petani Kelapa Sawit PIR-Trans (Aspekpir), kebijakan larangan ekspor CPO ibaratnya siapa yang berulah tetapi siapa yang harus menanggung. Petani sama sekali tidak tahu kenapa minyak goreng pernah langka, waktu itu petani juga sama dengan masyarakat Indonesia lainnya juga mengalami kesulitan mendapatkan minyak goreng. “Tetapi larangan ekspor diberlakukan yang pertama kali terdampak adalah petani sawit. Kami tidak tahu siapa yang makan nangka tetapi sekarang tangan kami penuh getahnya,” kata pihak petani.

Lebih lanjut, petani yang tergabung dalam ASPEKPIR Indonesia adalah petani yang sejak mulai menanam kelapa sawit sudah terbina dengan baik oleh perusahaan dan pemerintah, kelembagaan berupa  koperasi sudah  berjalan  dengan  baik,  mengerti dan  menerapkan  GAP.  Koperasi langsung menjual TBS kepada PKS mitra dengan harga penetapan sesuai Disbun/Permentan nomor 1 tahun 2018.  Kami adalah  bentuk ideal petani kelapa sawit sesuai dengan UU Perkebunan.

“Akibat larangan ekspor sekarang tangki timbun PKS tempat kami punya kontrak penjualan sudah penuh dan hampir penuh. Mereka tidak bisa menjual CPOnya pada industri olahan atau eksportir karena 70% pasarnya merupakan pasar ekspor,” catat petani sawit.

Bahkan kata mereka, harga sarana produksi saat ini naik tinggi sedang Tandan Buah Segar (TBS) sawit tidak terjual sehingga petani sudah jatuh tertimpa tangga, temboknya rubuh menindih para petani.

Kelapa sawit secara teknis agronomis buah matang harus segera dipanen , kalau dibiarkan tidak dipanen maka tanaman akan RUSAK dan perlu waktu untuk memulihkanya. TBS harus segera masuk pabrik kalau tidak akan busuk dan CPO yang dihasilkan bermutu rendah. CPO yang terlalu lama disimpan ditangki timbun juga akan RUSAK sehingga tidak bisa memenuhi syarat untuk pangan.

Dunia saat ini kekurangan minyak nabati dan Indonesia sebagai pemilik kebun kelapa sawit terbesar memiliki tanggung jawab memenuhi permintaan dunia ini sebagai bagian dari masyarakat internasional yang beradab.

“Karena itu kami dari ASPEKPIR Indonesia minta dengan tegas supaya Bapak Presiden Jokowi Segera Mencabut Larangan Ekspor dan jangan ditunda-tunda lagi. Kehidupan petani kelapa sawit jadi taruhan utama. Jangan sampai bapak Jokowi punya legacy buruk sebagai presiden yang menghancurkan perkebunan kelapa sawit,” tandas petani. (T2)

Dapatkan update berita seputar harga TBS, CPO, biodiesel dan industri kelapa sawit setiap hari dengan bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link InfoSAWIT-News Update, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Bisa juga IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


Atau ikuti saluran Whatsapp "InfoSAWIT News", caranya klik link InfoSAWIT News dan Group Whatsapp di InfoSAWIT News Update

Untuk informasi langganan dan Iklan silahkan WhatsApp ke Marketing InfoSAWIT_01 dan Marketing InfoSAWIT_02 atau email ke sawit.magazine@gmail.com