InfoSAWIT, JAKARTA – Harga minyak sawit mentah (CPO) pada Bursa Berjangka Malaysia tercatat kembali menguat pada Senin (5/12/2022), setelah sebelumnya mengalami penurunan harga mingguan mencapai 4%. Kini harga minyak sawit menguat menyusul pulihnya harga minyak kedelai di Amerika Serikat dan China.
Dilansir Reuters, kontrak patokan minyak sawit FCPOc3 untuk pengiriman Februari 2023 di Bursa Malaysia Derivatives Exchange naik 3,21% menjadi RM 4.079 ringgit (US$934,26) per ton pada awal perdagangan.
Sementara, harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade BOc2 naik 1,44%, setelah sebelumnya turun 10,80% selama empat sesi sebelumnya. Kontrak minyak kedelai teraktif Dalian DBYv1 naik 0,82%, sedangkan kontrak minyak sawit DCPv1 naik 0,36%.
BACA JUGA: Masa Jabatan Ketua Umum GAPKI Diubah Menjadi 3 Kali Periode?
Minyak kelapa sawit dipengaruhi oleh pergerakan harga minyak nabati lainnya lantaran mereka bersaing untuk memperoleh bagian di pasar minyak nabati global.
Lantas, mata uang Ringgit Malaysia (MYR) tercatat menguat terhadap dolar AS untuk hari keempat, mencapai level terbaiknya dalam tujuh bulan pada Senin. Mata uang Ringgit yang lebih kuat membuat minyak sawit kurang menarik bagi pemegang mata uang asing.
BACA JUGA: Saat GAPKI Mengubah Periode Masa Jabatan Ketum, Dari 3 menjadi 5 Tahun
Diungkapkan Analis Teknis Reuters, Wang Tao, harga minyak kelapa sawit mungkin turun lebih jauh ke kisaran RM 3.837-3.891 ringgit per ton, ini terjadi setelah melonjaknya harga minyak sawit mentah ke RM 4.029 ringgit. (T2)
