InfoSAWIT, JAKARTA – Implementasi bahan bakar nabati B50 yang dijadwalkan mulai Juli 2026 mendapat dukungan dari sektor transportasi, termasuk perkeretaapian. PT Kereta Api Indonesia (KAI) menyatakan kesiapan untuk mengadopsi bahan bakar campuran berbasis minyak sawit tersebut, setelah sebelumnya sukses menggunakan B40 pada seluruh armada lokomotif.
Dilansir InfoSAWIT dari keterangan resmi ditulis pada (13 April 2026), Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, mengungkapkan bahwa pihaknya mendukung penuh rencana transisi menuju B50 yang tengah dikembangkan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Menurutnya, penerapan B50 akan dilakukan secara bertahap dengan mengedepankan aspek keselamatan operasional. Seluruh lokomotif dan genset yang akan menggunakan bahan bakar tersebut dipastikan harus melalui serangkaian uji teknis sebelum dioperasikan secara penuh.
BACA JUGA: Tantangan Agrinas, di Balik Amanat Pengelolaan Sawit Jutaan Hektare
“Kami sangat mendukung rencana transisi ke B50. Pemanfaatan energi terbarukan akan semakin memperkuat peran kereta api dalam menjaga kelestarian lingkungan,” ujarnya.
Sebelumnya, KAI telah lebih dulu mengimplementasikan biosolar B40 sejak Februari 2025. Namun, penerapan tersebut tidak dilakukan secara instan, melainkan melalui proses uji coba yang telah dimulai sejak Juli 2024 guna memastikan kesiapan teknis dan operasional.
Penggunaan bahan bakar nabati ini diyakini mampu menekan emisi karbon, sekaligus mendukung strategi pemerintah dalam meningkatkan pemanfaatan energi baru terbarukan. Langkah ini juga menjadi bagian dari upaya mencapai target Net Zero Emission (NZE) pada 2060 serta mendorong kemandirian energi nasional.
BACA JUGA: ITS Kembangkan Bensin Sawit Rendah Emisi, Perkuat Ketahanan Energi Nasional
Di sisi lain, tren penggunaan transportasi publik berbasis rel juga menunjukkan peningkatan signifikan. Pada Triwulan I 2026, jumlah pelanggan kereta api mencapai 14.515.350 orang, meningkat 18,4% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat sebanyak 12.261.632 pelanggan.
Anne menilai, di tengah keterbatasan bahan bakar fosil, kereta api menjadi solusi mobilitas yang efisien dan berkelanjutan. Penggunaan biosolar B40 bahkan telah menjadikan setiap pelanggan sebagai bagian dari transformasi menuju sistem transportasi rendah emisi.
Selain melayani penumpang, KAI juga berperan penting dalam distribusi logistik nasional. Sepanjang Triwulan I 2026, KAI mengangkut lebih dari 12 juta ton batu bara untuk kebutuhan pembangkit listrik di Jawa dan Bali, serta hampir 3 juta ton barang lainnya, termasuk peti kemas dan hasil perkebunan.
BACA JUGA: Percepatan ISPO Hilir Jadi Kunci Daya Saing Global Industri Sawit Indonesia
Dengan penggunaan bahan bakar nabati pada seluruh armadanya, KAI semakin memperkuat posisinya sebagai tulang punggung transportasi yang tidak hanya andal, tetapi juga ramah lingkungan. (T2)
